Beranda HUKUM Pemalsuan Hasil Rapid Test Antigen oleh Petugas Puskesmas di Kabupaten Berau Terbongkar

Pemalsuan Hasil Rapid Test Antigen oleh Petugas Puskesmas di Kabupaten Berau Terbongkar

Rapid Test
Kasus pemalsuan hasil Rapid Test Antigen di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur terbongkar. Pelakunya adalah EP (37), seorang PNS Puskesmas di Kabupaten Berau.

Kini pelaku pemalsuan hasil Rapid Test Antigen tersebut meringkuk di penjara polisi. Karier pelaku sebagai PNS pun terancam tamat.

Sebelum terbongkarnya kasus pemalsuan hasil Rapid Test Antigen ini Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau sudah mewanti-wanti pegawai Dinkes agar tidak menyalahgunakan wewenangnya.

“Kita sudah ingatkan seluruh Puskemas, pegawainya berhati-hati jangan mencari keuntungan. Masalah sekarang kan jadi kriminal,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi, Selasa (27/4/2021).

Iswahyudi juga menjelaskan, tindakan EP memalsukan hasil Rapid Test Antigen sangat disayangkan. Apalagi pada surat antigen negatif palsu itu dia mencatut nama salah satu klinik swasta di Berau.

“Cuma karena Rp300 ribu (per lembar surat antigen palsu) kesempatan untuk berkembang sebagai (karir sebagai PNS) sudah tidak ada,” kata Iswahyudi.

“Yang jelas, oleh kepolisian sekarang yang bersangkutan diberkas dulu. Selesai itu nanti akan ada kajian pemeriksaan dan Pemkab, kita usulkan ke Bupati. Ada sanksinya. Penurunan pangkat sampai pemecatan. Itu yang menentukan Bupati,” imbuhnya.

Iswahyudi menyampaikan kekecewaannya. “Sangat kecewa. Dilihat sekarang masih pandemi Covid-19, kalau ternyata itu positif Covid-19, berapa banyak membahayakan orang di dalam pesawat. Juga, tentu ini berimbas kepada dirinya sendiri, harapan orang tua dan keluarganya,” jelas Iswahyudi.

Hasil penyidikan kepolisian, perbuatan EP mengeluarkan hasil rapid test palsu lantaran alasan ekonomi untuk menambah pendapatan. Kasus itu sendiri dilaporkan ke kepolisian oleh pemilik salah satu klinik swasta, lantaran nama klinik itu dicatut menyusul hasil rapid antigen dipalsukan tanpa adanya pemeriksaan sebagaimana mestinya.

“Kalau ternyata orang yang membayar untuk mendapatkan hasil antigen tanpa pemeriksaan itu positif, berapa banyak dia akan menulari orang lain?” ujar Kapolres Berau AKBP Edy Setyanto Erning.

Sebelumnya, polisi menangkap 4 orang kasus pemalsu hasil rapid test antigen, Minggu (25/4), di Bandara Kalimarau Berau. Salah satu tersangka adalah EP, seorang PNS Puskesmas di Berau. Tidak kurang 10 surat hasil rapid antigen palsu dikeluarkan EP, bertarif Rp 300 ribu per lembarnya.